Menantu Durhaka Hanya Menang Melawan Istri Tapi Kalah Ketika Duel Dengan Mertua

Kelakuan Arjasa, 40, dari Bali ini benar-benar seperti Kiageng Mangir dari Mataram. Mertua sendiri kok dilawan, mending kalau menang. Malu karena dibikin KO oleh Wayan, 45, Arjasa segera melapor ke Polres Buleleng. “Saya mau nekad, dia kan mertua sendiri Pak,” kata Arjasa membela diri.

Dalam sejarah Mataram dikisahkan, Kiageng Wanabaya dari kadipaten Mangir memberontak kepada Panembahan Senopati. Untuk memadamkan pembrontakan, raja Mataram pertama itu mengumpankan Putri Pembayun.. Karena tak tahu bahwa Putri Pembayun yang berbetis mbunting padi ini putri musuhnya, dikawini sampai punya anak. Nah, ketika diajak sowan mertua, barulah Kiageng Mangir terjebak. Dia dibunuh saat menghaturkan sembah kepada Sinuwun Mataram.

Karena orang Bali, Arjasa tak pernah membaca kisah seperti ini. Padahal jika tahu, mesti dia bisa berkaca dan menahan diri untuk tidak bernasib buruk Kiageng Mangir. Tapi begitulah suratan nasib warga Desa Kayuputih Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleleng (Bali). Dengan penuh rasa jumawa dia menantang duel Wayan mertua sendiri, padahal tidak sampai dua ronde Arjasa harus melempar handuk menyatakan kalah.

Jika dicermati, sebetulnya pangkal masalah dari Arjasa sendiri, karena soal pangkal paha juga. Edan nggak, di kala istri masih punya bayi usia 6 bulan, Arjasa main selingkuh dengan wanita lain. Tentu saja Made Suwarni tidak terima. Tapi ketika dia protes akan kelakuan Arjasa hanya dijawab dengan pukulan dan tendangan belaka. Puncaknya, Suwarni mengadu pada orangtuanya.

Wayan kasihan juga pada nasib putrinya. Tapi memutus koalisi alias cerai, kasihan cucunya akan jadi korban. Lantaran sebentar-sebentar putrinya mengadu habis digebuki suami, terpaksa Wayan ambil alih persoalan. Untuk sementara Suwarmi disuruh kembali ke rumah dan disembunyikan. Meski suami, Arjasa dilarang keras menemui tanpa seizin Setgab Wayan Juwarna berikut jajarannya.

Meski bila ketemu sering main tempeleng, dua minggu tak “ketemu” istri Juarsa pusing juga. Dia lalu ke rumah mertua, menanyakan di mana keberadaan istrinya. Tapi jawaban keluarga mertua kompak: auh gelap! Tentu saja Arjasa meradang. Bayangkan, gara-gara diembargo istri, sudah dua minggu dia tak sempat “ngetap alie” dan amplas platina. Arjasa benar-benar gondok. Presiden SBY saja tak pernah mau intervensi, ini mertuanya selalu campur tangan urusan rumahtangga mantu.

Beberapa hari lalu tibalah puncak kekesalan itu. Melihat mertua sedang nyetir mobil pengangkut batu, langsung disetopnya. Arjasa kemudian memaki-memaki bapaknya istri. Tentu saja Wayan Juwarna jadi tersinggung. Mantu bangor itu disergap dan dipiting sampai tak bisa bergerak. Sayang, dia mau menempeleng dengan tangan kanannya dicegah oleh para pemisahnya.

Meski tak sampai luka-luka, dikalahkan mertua di depan publik, membuat Arjasa kehilangan muka. Dia segera melapor ke Polres Buleleng, mengatakan bahwa habis dianiaya mertua. Petugas pun heran, masak mantu bisa kalah dengan mertua. “Saya kan ngalah Pak, masa mertua sendiri kok dilawan,” kata Arjasa memutarbalikkan fakta. Tapi gara-gara laporan Arjasa, Wayan Juwarna dijemut polisi untuk diperiksa. “Dia memang mantu kurang ajar, sudah dikasih “kenikmatan istimewa” kok berani sama mertua,” kata Wayan.

Cabut saja hak istimewanya, biar kayak Yogya.

This entry was posted in KDRT, Perkelahian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s