Ditolak Berhubungan Badan Dengan Istri Seorang Petani Meniduri Anak Tetangga Sebagai Ganti

Petani biasanya pusing soal penebaran benih padi di sawah. Tapi Kameso, 58, dari Lumajang (Jatim) ini justru pusing soal penebaran benih di rakhim gadis tetangga. Nah, gara-gara 6 kali menggauli Tinah, 17, sampai hamil, petani tanpa dasi ini harus menjadi urusan polisi. “Jeneh bojo kula empun mboten purun ngladosi,” ujarnya di depan petugas.

Petani biasanya akan pusing jika musim tanam tiba, tapi hujan jarang turun. Lalu nyebar (menyemai benih)-nya kapan? Benih berhasil disemai dan saat menampun tiba. Tapi ketika mencari buruh tandur (tanam padi), tak juga dapat, petani kembali pusing tujuh keliling. Sering lho terjadi, sesama petani jadi berkelahi hingga bacok-bacokan gara-gara rebutan tenaga wong tandur.

Kameso warga Desa Barat Kecamatan Padang Kabupaten Lumajang, juga masih getol bertani dalam usia menjelang kepala enam. Urusan cangkul-mencangkul dia masih kuat, sawah sepetak bisa diselesaikannya hanya dalam 2-3 hari saja. Tapi repotnya, ketika hendak menggarap “sawah” tak seberapa luas milik istri di rumah, sering ogah-ogahan “dipacul”. “Wis tuwa pak, mbok mikir liyane wae (sudah tualah, mbok iyao mikir yang lain saja),” kata Ny. Kamini, 55, istrinya.

Maklum, bagi kalangan wanita, ketika masa menepause sudah tiba, dia tak bergairah lagi dalam urusan ranjang. Sebaliknya kaum lelaki, usia kepala enam kek, usia kepala delapan kek, soal begituan masih banyak yang maju. Lihat saja sikap dan gerak kepala para lelaki jompo, dia akan selalu mengangguk-angguk. Itu maksudnya: hayo bu, hayo……! Lalu istrinya yang sama-sama jompo pasti akan menggeleng-gelengkan kepala, dengan maksud: ogah, ogah, ogah!

Apa lagi bagi Kameso yang belum kepala enam, masih maju tak gentar soal beginian. Cuma sayangnya, sang istri sudah ogah melayani. Malah bila suami jowal-jawil sebagai isyarat ajakan, malah diceramahi bagaikan Mama Dedeh saja. “Kita-kita ini sudah tua Pak, sebaiknya kita berlomba dalam mencari pahala, jangan mikir paha melulu….,” kata Ny. Kamini sambil terus tidur berselimut, tengkurep pula!

Ditolak sekali dua kali, Kameso yang masih enerjik ini masih bisa memaklumi. Tapi jika saban waktu terus ditolak, ya mbengung (protes) lah. Kalau orang Yogya keistimewaannya ditolak bisa mengancam dengan referandum, lha kalau Kameso mau main ancam dengan apa? Wong dalam kenyataannya, justru istrinya yang suka mengancam dirinya. “Ra tak liwetku kapok (kalau saya mogok masak, tahu rasa)” katanya selalu.

Urusan perut masih bisa ditunda, tapi untuk yang dibawah perut? Inilah kemudian solusi gila Kameso, diam-diam dia mendekati gadis Tinah yang kurang pendidikan. Dirayu-rayu untuk hubungan intim bak suami istri, dia mau saja. Maka ketika situasinya demikian mantap dan terkendali, gadis jebolan SD kelas II itu digaulinya berulangkali hingga berjumlah enam kali. Dia diam saja, karena dalam prakteknya dia juga menikmati.

Masalah baru timbul ketika tahu-tahu Tinah hamil 4 bulan. Dalam pengusutan gadis lugu itu mengakui bla bla bla….bahwa yang menyebar “benih” unggul itu Kameso tetangganya. Keruan saja Pak Tani yang tak berdasi ini jadi urusan polisi, karena harus mempertanggungjawabkan perbuatannya menebar “benih unggul” di luar musim tanam. “Nek bojo kula mboten rewel, nggih mboten ngeten niki dadosane (jika istriku tak menolak, takkan begini akhirnya),” ujar Kameso penuh penyesalan.

Pikir dulu kenikmatan, sesal kemudian tak berguna.

This entry was posted in Perselingkuhan, Tua Tua Makin Jadi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s