Seorang Istri Memilih Mati Daripada Harus Dimadu

Mandul memang bukan maunya Mindul, 24, tetapi Marbun, 29, juga tak mau punya istri tak bisa memberikan anak. Demikian rindunya pada keturunan, Marbun nekad selingkuh dengan perempuan lain. Hancurlah hati Mindul. Tak rela dimadu dan dikhianati cintanya, dia memilih mati gantung diri dengan kabel telepon.

Anak selalu menjadi dambaan keluarga. Orang berumahtangga di antaranya juga karena pertimbangan keturunan. Maka perempuan yang tak bisa memberikan anak, boleh dikata aji godong jati aking (lebih berharga daun jati kering). Padahal tidak selamanya benar. Daun jati kan hanya untuk pembungkus tempe. Sedang perempuan mandul, masih bisa dimanfaatkan untuk sekedar tamba adem (pengobat dingin).

Mindul yang menyadari akan kekurangannya, siap difungsikan suami sekedar untuk pengusir dinginnya malam. Tapi Marbun tak mau sepanjang hidupnya hanya anget kemrisik tanpa anak. Sebab sekali hidup tanpa memiliki keturunan, lalu siapa yang akan menjadi penerus dinasti Marbun? Lalu di hari tua nanti siapa yang mengurus dirinya. Apa mungkin masuk panti jompo? Alangkah ngherinya…….!

Demi berburu keturunan, diam-diam Marbun pun mencari tokoh alternatif untuk dijadikan istri. Setelah mantap dengan pilihannya, Marbun pelan-pelan memberi pengertian pada Mindul akan rencananya kawin lagi. Pada prinsipnya, status Mindul sebagai istri istimewa takkan dikurangi. Malah dengan adanya perempuan kedua sebagai madu, Mindul akan ditinggikan derajatnya. Maksudnya, segala kebijakan rumahtangga harus mendapat restu dan seijin dari istri tua. Asyik, kan?

Tapi Mindul memang bukan anak kemarin sore. Otak-atik Marbun yang meniru gaya Presiden SBY versus Sultan Yogya ini segera ditolaknya. Di mana letak istimewanya, jika sebagai ibu rumahtangga hanya dijadikan orang kedua? Sebab dengan posisi baru itu, Mindul tak bisa lagi mengelola anggaran alias uang belanja bulanan. Masak, katanya istri istimewa kok tiap minggu hanya dicatu oleh madunya. “Kalau begini caranya, saya siap referandum…..,” kata Mindul berapi-api.

Bukan Marbun jika tak ngotot dengan rencananya. Lantaran istri tak mau dimadu, dia lalu diam-diam menjalin asmara gelap-gelapan alias selingkuh. Adem ayem untuk sementara. Tapi begitu tahu suaminya masih menjalin asmara dengan gendakan dan calon istri barunya, Mindul pun mengirimkan nota protes. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, begitu Marbun pulang kerja malah ribut dengan istrinya.

Tapi rupanya Marbun tetap bersikeras dengan rencananya, menikahi sang gendakan meski tak disetujui istri. Mindul pun menjadi putus asa. Dia merasa gelap sekali hari-hari ke depan selanjutnya. Prinsipnya, dari pada hidup berputih mata, mendingan mati berkalang tanah. Dan tekad itu dibuktikan malam harinya. Ketika Marbun pulang dari bepergian, didapati istri mati gantung diri dengan kabel telepon. “Silakan kamu main gila, karena aku memang tak bisa memberikan keturunan,” bunyi secarik kertas yang ditinggalkan almarhumah.

Mindul sudah dimakamkan di desanya, Campursari Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara. Tapi keluarga tak yakin bahwa itu akibat tindakan bunuh diri. Diduga Mindul mati dibunuh, Marbun pun dilapurkan ke Polsek Kotabumi. Kini lelaki rindu keturunan ini tengah menjalani pemeriksaan. Dia menolak tuduhan pembunuhan, kecuali mengakui bahwa sebelum bunuh diri Mindul memang ribut dengannya.

Ribut, lalu jalan pernapasan dipampeti pakai tangan? Ya matilah

This entry was posted in Bunuh Diri, Perselingkuhan, Poligami. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s