Ketua RT Sudah Beristri Tiga Masih Juga Menyelingkuhi Keponakan Yang Mulus

Baru jadi ketua RT saja Maryono, 40, istrinya sudah tiga, apalagi jadi ketua partai. Ewa segitu, meski istri sudah ombyokan, dia tak puas juga. Melihat ponakan sendiri demikian mulus, ukuran celananya pun langsung berubah. Maka Mely, 17, lalu ditubruknya dalam kamar, sehingga urusan pun melebar ke polisi.

Kesannya, orang berbini banyak itu tak lebih hanyalah pejuang selangkangan. Kenapa harus beristri lebih dari satu? Wong satu saja tak pernah habis dimakan rayap. Tapi itulah kaum adam, selagi hukum membolehkan, boleh-boleh saja difersifikasi menu dalam urusan libido. Dari sana para poligamiwan jadi tahu: oo….orang berkulit hitam rasanya begini, yang kulit putih begitu, yang kuning tapi panuan demikian, dan seterusnya.

Pak RT Maryono dari Desa Gebang Kecamatan Padangcermin Lampung Selatan, rupanya demikian juga. Awalnya istrinya hanya satu. Tapi karena sering kaco ketika sedang butuh, ditambahlah bini kedua. Tapi rupanya, punya bini dua belum juga cukup. Yang model begini sudah merasakan, model begitu juga telah mencicipi, apa salahnya cari model lain lagi, yang multiplayer dan colokannya ada di depan. Lalu Pak RT pun menikah lagi, sehingga kini bininya berjumlah 3 orang dan semuanya bebas pajak.

Tapi dengan begitu banyak pengalaman cita rasa perempuan, menjadikan Maryono tak merasa puas. Buktinya, melihat ponakan sendiri, si Mely, yang sekarang nampak mulus bebas dempul, mulai cengengas-cengenges. “Yang STNK sudah merasakan, seperti apa pula sih yang masih ABG?” begitu mungkin gejolak batinnya.

Mulailah Maryono mendekati si Mely. Tapi karena obyek sasaran masih keluarga dekat, kiat-kiat itu harus dikemas lebih rapi. Tak perlu tergesa-gesa, harus meniru etos kerja kucing garonglah. Nampak kalem, diem, tapi begitu ada peluang langsung menerkam dengan segara: ngeoooooong!

Sejak beberapa bulan lalu Pak RT punya wacana seperti itu. Tapi peluang emas itu baru muncul beberapa hari lalu, ketika dia berkunjung ke rumah orangtua Mely. Melihat sang ponakan tidur dengan posisi seronok, pendulumnya langsung kontak: blip, blip, blip. Kebetulan situasinya demikian kondusif, karena orangtuanya tak di rumah. Maka atas nama setan, segera ditubruklah Mely dan sekian menit kemudian, terpuaskan sudah dahaga asmaranya.

Ketika perbuatan terkutuk itu usai, seperti lazimnya Maryono juga mengeluarkan imbauan agar masalah ini tak disosialisasikan ke mana-mana, karena bisa menimbulkan kegoncangan publik. Soal monarki-demokrasi saja bisa bikin heboh, apa lagi masalah yang gede diemok-emok dan dikerasi. Pasti bikin geger, apa lagi posisi Maryono sebagai Pak RT.

Tapi Mely tak memedulikan imbauan itu. Dia segera mengadu pada pacarnya, dan pacarnya melapor pada orangtuanya. Tentu saja ayah Mely kaget bukan main. Ketika dikonfirmasi pada pihak terkait, maksudnya Maryono, jawabnya pating pecotot tidak keruan. Dari sana jelaslah bahwa penodaan atas ponakan itu memang terlah terjadi. Maka sore itu juga kasusnya dibawa ke Polsek Padangcermin dan Pak RT ditangkap. “Saya mencintai Mely dan siap menikahi,” ujarnya.

Memangnya boleh, ponakan kok dibuat penak-penakan

This entry was posted in Pagar Makan Tanaman, Pemerkosaan, Perselingkuhan, Poligami, Tua Tua Makin Jadi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s