Demi Membalas Sakit Hati Ibu Karena Diselingkuhi … Anak Nekad Bunuh Bapaknya

Munir, 45, benar-benar nekad. Ada janda manis dekat rumah istrinya, masih juga diselingkuhi. Tentu saja anak tirinya, Dirman, 23, tak terima cinta ibunya dikhianati. Dirman – Munir pun cekcok, berujung dengan adu senjata. Apes bagi Dirman, nyawanya terbantai demi membela kehormatan ibunya.

Di Senayan, anggota Badan Kehormatan DPR Nudirman Munir Cs dianggap tak punya etika karena nglencer ke Turki segala saat studi banding ke Yunani. Tapi di Gunung Kidul, Dirman justru kehilangan nyawanya demi menjaga kehormatan ibunya. Dia berkelahi dengan si Munir ayah tirinya, gara-gara tak terima ibunya disia-siakan sampai kemudian memilih minggat dan bekerja di Kalimantan.

Munir warga Gedangrejo Kecamatan Karangmojo, agaknya memang tipe lelaki mata keranjang. Dia kawin dengan Ny. Sarmi, 43, karena sudah bosan pada istri perdana. Tapi meski sudah ganti “kendaraan” baru, Munir masih tergiur juga pada “kendaraan” lain. Ibarat sepeda, miliknya hanya Fongres, dia mendambakan yang Raleigh pakai rem tromol. Katanya, kalau direm bunyi : ngooooook!

Sudah barang tentu Sarmi tak suka pada kelakuan suaminya. Maka meski perkawinan baru jalan beberapa tahun, dia nekad minggat ke Kalimantan, mencari pekerjaan baru. Sedang anak kandungnya, tetap dibiarkan tinggal di rumah kakek-neneknya di desa yang sama. Gara-gara kepergian istri pula, Munir lalu tinggal di rumah orangtuanya.

Lama ditinggal istri, Munir yang masih muda dan enerjik semakin nekad memacari “kendaraan” baru yang selama ini diincarnya. Bila kemarin-kemarin masih sembunyi-sembunyi, kini semakin terang-terangan saja. Hal ini tentu saja membuat Dirman anak Ny. Sarmi tersinggung. Bagaimana mungkin, masih jadi suami ibunya yang sah kok masih juga memacari janda lain. Ini namanya kan pelecehan.

Dirman pernah menegur ayah tirinya, tapi tak digubris oleh Munir. Keduanya pun menjadi musuh bebuyutan, bagaikan Korut lawan Korsel. Sampailah pada kejadian beberapa hari lalu. Tiba-tiba Munir ke rumah istrinya untuk mengambil baju. Dirman yang kadung dendam pada ayah tirinya, kembali ngomel-ngomel sambil mengamang-amangkan golok. Tekadnya rupanya sudah bulat, jika Munir sampai cemuwit (ngomong), akan segera ditebas dengan golok ini.

Tentu saja Munir tak mau ditakut-takuti “anak kecil” macam Dirman, apa lagi tongkrongannya juga menang gede. Ketika anak tiri membabatkan goloknya, dia segera berkelit dengan ilmu Mahesa Jenar, wush……! Dalam hitungan detik, golok itu bisa direbut. Bak senjata makan tuan, Munir yang kethoten (marah sekali), gantian membabatkan golok itu ke tubuh si anak tiri, bet, bet, cross. Dalam hitungan menit Dirman pun tumbang dan wasalam.

Semula Munir mencoba ngucireng yuda (kabur), tapi dicegat oleh para tetangganya sendiri. Dengan tangan terborgol dia diserahkan ke Polsek Karangmojo. Dalam pemeriksaan dia mengakui, sangat menyesal kenapa jadi membunuh anak tirinya. “Sebetulnya saya hanya emosi. Ketika dia mau membunuh saya, gantian golok saya rebut dan saya bacokkan,” ujarnya, seakan klarifikasi bahwa dirinya sekadar mempertahankan diri.

Mempertahankan diri gara-gara tak tahan nafsu, kan?

This entry was posted in Pembunuhan, Perselingkuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s