Suami Bunuh Tukang Pisau Saat Tidur Karena Istrinya Disetubuhi Oleh Tukang Pisau

Logikanya, sebagai tukang asah pisau ke mana-mana Saripin, 40, pastilah membawa pisau banyak. Karenanya, Kasmo, 39, ketika bersaing dalam urusan cinta, tak berani menghadapi langsung. Nah, ketika tukang pisau itu tidur, langsung dipukul linggis 3 kali hingga tewas. Tapi ketika hendak melarikan istrinya, eh dibekuk polisi!

Dalam urusan cinta, tukang asah pisau lawan pekerja pengolah ikan asin, ternyata seru juga. Soal menghilangkan nyawa orang, dianggap enteng saja. Tapi namanya pekerja pengolah ikan asin, mentalnya juga kayak ikan asin. Kasmo tak berani bersaing secara jantan. Untuk menghabisi Saripin yang dikiranya selalu bawa pisau banyak ke mana-mana, justru dilimpe (dicari lengahnya) ketika sedang tidur nyenyak. Bet, bet, bet, linggir itu menghajar kepala Saripin tanpa ampun, dan wasalamlah dia.

Pekerjaan sehari-hari Saripin memang jadi tukang asah pisau keliling. Dengan modal gerinda dan sepeda butut, dia keliling kampung menawarkan jasa asah pisau. Penghasilannya, jikalau dibandingkan dengan Gayus, jelas tak ada apa-apanya. Tapi lumayanlah, sekedar cukup untuk makan sehari-hari dengan lauk ikan asin. “Ikan asin lagi! Jangan ngomong ikan asinlah…..!” kata Saripin kemudian.

Lho, memangnya ada apa dengan ikan asin, kok Saripin jadi sensitip? Soalnya, gara-gara ikan asin itu pula, rumahtangganya jadi berantakan. Istrinya, Samini, 34, diam-diam sering terima ikan asin gratisan dari Kasmo, yang bekerja di pengolahan ikan asin, di Tegal Barat. Kalau pemberian itu lillahi ta’ala nggak apa, tapi Kasmo kan berharap lebih. Kasih dua bungkus ikan asin, tapi dia memperoleh “bandeng” Samini yang dipresto dan bebas aroma lumpur.

Barter “bandeng” Ny. Samini – Kasmo, Saripin memang tak pernah melihatnya. Tapi dari gerak-gerik istrinya, seakan membenarkan bahwa perselingkuhan kelas akar rumput ini sudah terjadi. Karenanya, dia hanya bisa memperingatkan pada Kasmo, jangan sekali-kali obral ikan asin lagi pada istrinya. “Kalau masih kirim ikan asin, tak bunuh kamu!” ancam Saripin sambil mengamang-amangkan pisau habis diasah. Tapi ini sekedar menakut-nakuti saja, wong itu pisau orang.

Asal ketemu Kasmo, pasti lagi-lagi Saripin mengamang-amangkan pisau. Tentu saja si pekerja ikan asin ini jadi ngeri. Sebagai tukang asah pisau yang ke mana-mana bawa banyak pisau, bisa saja ancaman itu jadi sungguhan. Maka pikir Kasmo, sebelum didului, lebih baik mendahului saja. Tapi bagaimana caranya? Saripin ke mana-mana kan selalu siap dengan pisau-pisau yang tajam.

Namanya juga otak ikan asin, mental Kasmo licik banget. Buka front berhadapan tidak berani, ya cari lengahnya saja. Gitu saja kok repot. Maka ketika Saripin tengah ketiduran di gardu saat mencari pelanggan, langsung saja diembat pakai linggis sebanyak 3 kali, bet, bet, bet! Mimpi Saripin jadi anggota DPR pun terhenti, dia tewas seketika dengan kepala berdarah-darah.
Warga Desa Tegalsari, Tegal Barat, geger. Berdasarkan isyu yang beredar, dengan cepat polisi berhasil menangkap Kasmo. Ternyata dia mengaku terus terang bahwa Saripin memang mati dipentung linggis olehnya. Katanya, dia tak tahan sebentar-sebentar diancam mau dibunuh oleh korban. “Daripada keduluan dibunuh, mending dia saya bunuh duluan,” ujarnya tanpa tedeng aling-aling, dengan bahasa pating blekuthuk.

Suka ngancam “tak bunuh kamu”, kok kayak Kadir saja

This entry was posted in Pembunuhan, Perselingkuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s