Terbakar Asmara Oleh Karyawan SPBU

BAWA barang saja tanpa dokumen sah, bisa disebut penyelundupan. Apalagi bawa istri orang, tanpa seizin suaminya pasti jadi masalah. Dan inilah yang dialami Rasid, 35. Ketika kepergok membawa lari Halimah, 30, istri Somad,34, langsung digebuki keluarganya hingga babak belur. Untung saja polisi turun tangan.

Aneh memang. Perempuan begitu banyak yang belum mendapatkan jodohnya, tapi kenapa seorang lelaki memilih mengganggu istri orang? Daripada mencari setori dengan pihak lain, mendingan cari perempuan yang bebas merdeka, lalu dikawininya secara baik-baik. Setelah itu mau dibawa ke mana saja dan kapan saja, pasti takkan bikin rugi pihak lain. “Istri-istrimu adalah sawah ladangmu, maka pergauilah dia sebagaimana yang kau kehendaki,” begitu firman Illahi dalam Qur’an (Albaqarah: 223).

Lha si Rasid ini lain. Halimah belum juga jadi istrinya, tapi sudah berpikir bagaimana untuk menggaulinya. Dikala perempuan itu berboncengan dengan suami, enak saja diserobotnya di tengah jalan. Tentu saja Somad sebagai suami jadi kelimpungan. Maka dikerahkan keluarganya, untuk memberi pelajaran Rasid yang berkelakuan macam Prabu Dasamuka itu. Kalau saja polisi tidak segera turun tangan, niscaya anak muda dari Malang ini jadi abon di pulau Madura.

Sudah lama Halimah jadi istri Somad yang jadi guru madrasah di Desa Kramat Tanjung, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan. Tapi ketika dia kenal dengan Rasid yang jadi karyawan SPBU Ambat Kecamatan Tlanakan, pikirannya jadi berubah. Bukan gila memang, tapi dia mulai memikirkan betapa indah dan bahagianya jadi istri Rasid. Secara materi pun, karyawan SPBU ini lebih memadai. Jika ada cewek bau bensin, Halimahlah dalam arti sesungguhnya, karena Rasid tiap hari kerjanya memang melayani penjualan bensin.

Lazimnya berselingkuh, tentu tidaklah puas jika hanya ketemu liwat pembicaraan HP. Mereka pastilah ingin ketemu muka, lalu dilanjutkan dengan temu ranjang. Untuk memuwujudkan gairah asmaranya, kemudian Rasid – Halimah mengatur perjanjian untuk pergi sama-sama ke Surabaya. Di kota pahlawan ini mereka bermaksud mereguk cinta sepuasnya. “Mulai dari nol ya…..,” kata Rasid berandai-andai, namanya juga selingkuh karyawan SPBU.

Tapi teori ternyata tak berbanding lurus dengan praktek. Dikala Halimah sudah menjadwal acara demikian rapi, mendadak dia diajak suami belanja ke Pasar Pamekasan. Menolak mentah-mentah, dia tak menemukan alasan yang pas. Maka diikuti saja ajakan suami. Tapi sepanjang perjalanan, dalam boncengan motor dia mengatur siasat bagaimana bisa terlepas dari ajakan suami, dan kemudian bergabung dengan Rosid sebagaimana acara semula.

Maka setelah mengisi bensin, dengan alasan pusing-pusing Halimah minta suaminya belanja sendiri, sedang dia mau istirahat dulu di warung kopi. Padahal, begitu Somad memacu motornya, tak lama kemudian datang Rasid. Mereka pun segera berboncengan, memacu motor lewat jembatan Suramadu. Bagi Rasid, Suramadu memang kepanjangan: Surabaya tempat memadu kasih.

Mendadak Somad merasa tak enak meninggalkan istrinya sendirian. Dia balik lagi ke warung kopi, tapi ternyata istrinya sudah tak ada di tempat. Kata pemilik warung, Halimah sudah pergi dengan seorang anak muda dengan motor bernopol sekian-sekian. Segera saja Somad komandokan keluarganya untuk mencegat kendaraan tersebut. Benar saja, pasangan buron itu berhasil ditangkap dan Rasid babak belur dihajar. Andaikan saja polisi tak segera mengamankannya, niscaya karyawan pomp bensin ini sudah jadi abon sapi sebelum Lebaran haji.

Karyawan SPBU sih, tahunya ya peringatan dilarang merokok!

This entry was posted in Perselingkuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s