Pemuda Bodoh Gantung Diri Karena Setelah Banyak Hutang Ditinggal Istri Untuk Kawin Lagi

KARENA banyak wanita pemuja kebendaaan, lalu munculah ungkapan: ada uang abang sayang, tak ada uang abang ditendang. Ini benar-benar dialami oleh Zulfikar, 34, dari Medan (Sumut). Ketika dirinya nganggur, istri malah kawin dengan lelaki lain. Demikian frustrasinya Zulfikar, sehingga memilih mati gantung diri.

Nggak di Jawa, nggak di Sumatra, perempuan penganut “aliran” witing tresna merga atusan lima selalu saja banyak anggotanya. Mereka mencintai lelaki hanya diukur dari tebalnya kantong, baru urusan “si entong”. Maka berbahagialah kaum lelaki yang memiliki istri siap dijak mlarat (diajak miskin). Dia benar-benar wanita tahan bantingan, dalam kondisi miskin pun selalu siap bersama suami.

Bagaimana dengan Ny. Santi, 28, istri Zulfikar, warga Rantau Prapat (Sumut) ini? Kayaknya juga termasuk wanita pemuja kebendaan, tak tahan hidup miskin bersama suaminya yang hanya pengayuh betor (becak motor). Ketika penghasilan suami semakin tidak menjanjikan, dia malah memaksa suami menjual betor itu sekalian, dan lalu alih profesi. Tapi profesi apa? Sebab setelah betor terjual, keluarga malah hanya makan dari uang hasil penjualan alat sumber pencarian rejeki itu.

Jelas itu tak bisa bertahan lam. Sementara suaminya nganggur, Santi malah main mata dengan lelaki lain. Klimaksnya, dia minta cerai dan kemudian kawin dengan lelaki itu. Sungguh kasihan nasib Zulfikar. Sudah kehilangan kendaraan pencari nafkah, masih kehilangan pula”kendaraan” pribadi yang memberikan kehangatan di malam hari. Gara-gara sudah tak ada uang, benar-benar siabang ditendang.

Kini Santi sudah pergi bersama suami barunya, termasuk membawa serta ketiga anaknya. Zulfikar benar-benar hidup sebatang kara, tak punya penghasilan, tak punya tempat bernaung dan tanpa keluarga. Dalam posisi macam korban bencana alam Mentawai, dia terpaksa cari tumpangan hidup di rumah sepupunya, di Lingkungan 11, Kelurahan Titipapan, Kecamatan Medan Deli. “Saya kini kehilangan segalanya bang,” katanya memelas.

Seperti lazimnya keluarga jadi tempat curhat, keluarga Badrun pun hanya bisa menghibur dan menasihati bahwa Zulfikar harus bersabar atas cobaan Tuhan ini. Lalu bagaikan uztadz di atas mimbar, adik sepupu yang tengah frustrasi ini diberi pencerahan bahwa Allah takkan menguji ummat-Nya di luar batas kemampuannya. Qur’an Surat Yusuf ayat 87 pun dikutipnya: jangan kamu putus asa dari rahmat Alllah……

Tapi agaknya nasihat si kakak ipar kalah dominan dengan bujukan setan. Buktinya, Zulfikar terus saja meratapi kepergian istri dan nasibnya. Bagi mantan sopir betor ini, hidupnya di dunia ini sudah tak ada lagi gunanya. Lalu buat apa berlama-lama, hanya bikin beban keluarga kakak sepupu saja. “Sudah bunuh diri saja, ini ada kabel, atau minum racun serangga…,” kata setan mengompori.

Rupanya Zulfikar memilih opsi pertama. Tengah malam ketika keluarga Badrun sudah terlelap dibuai mimpi, dia malah mengambil kabel antene teve, lalu dikalungkan ke lehernya, srettt. Lalu kabel itu disangkutkan ke kaso atap rumah, naik ke atas meja barang sebentar….. Lalu keesokan harinya, keluarga Badrun mendapatkan si adik sepupu ini sudah mati tergantung dalam kamarnya. “Padahal sudah saya janjikan untuk pekerjaan lain,” kata Badrun prihatin.

Pekerjaan masih bisa dicari, kalau nyawa ?

This entry was posted in Bunuh Diri, Pernikahan, Putus Cinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s