Lelaki Separuh Baya Tewas Saat Meniduri Selingkuhannya

AMAT tragis kisah perjalanan hidup Maryadi, 44, dari Sidoarjo (Jatim) ini. Sebagai pegawai kantor pengerahan tenaga kerja, malah tewas saat menyalurkan tenaga kuda. Makin tragis lagi, “kencing enak” membawa maut tersebut berlangsung justru bersama selingkuhan. Padahal pamitnya dari rumah mau silaturahmi.

Tingkah laku orang tak bisa diukur lewat penampilan. Yang nampaknya alim, malah suka berbuat dzolim. Yang kelihatannya anteng, diam-diam nggembol kreneng (baca: sangat membahayakan). Maka dalam bahasa “Jerman”-nya sering disebut: giri lusi janma tan kena ingina. Jika merunut kepada khazanah lama, kita mengenal ungkapan atau peribahasa: dalamnya laut bisa diduga, dalamnya hati siapa tahu.

Itu pula rupanya perjalanan nasib yang tengah dilakoni Maryadi dari Desa Kepusari, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo. Dalam lingkungan keluarga dan tetangga, dia hadir sebagai lelaki yang kalem, tidak banyak omong. Dalam pertemuan bersama warga misalnya, Maryadi lebih banyak jadi pendengar saja, tak banyak komentar. Jika dimintai pendapat, cukup ngegongi (mendukung) saja. Dan yang paling disenangi Pak RT, bila ada tarikan iuran ini itu, dia tak pernah protes. Langsung bayar!

Konyolnya, alim di rumah ternyata Maryadi jadi sangat dzolim di luar rumah. Bagaimana tidak? Diam-diam dia memiliki Simpedes non BRI alias selingkuhan. Cewek yang tengah menjadi idola jiwanya adalah Maryati, 25, janda dari Desa Bendo Tretek Kecamatan Prambon. Asal pulang kerja, dia tak selalu segera ingin kembali ke rumah, melainkan nyengklengke (menyempatkan diri) dulu bersama gendakannya. Profesinya sebagai pegawai penyalur tenaga kerja, sangat mendukung hobi baru Maryadi.

Andaikan boleh dibandingkan, antara Maryati dengan istri Maryadi di rumah, memang tidak berbanding lurus. Betapapun sesungguhnya sama-sama cantik, tapi si janda jauh lebih muda dan berbodi sekel nan cemekel lagi. Sedangkan di rumah, dalam usia 40 tahun kini, jelas sudah mulai peyot. Ibarat mobil, sudah banyak kena dempul Isamu di sana sini. Kelihatannya mulus, tapi jika kena panas, warna cat berubah dan bekas dempulan nimbul kembali.

Hati kecil Minul istrinya, selalu percaya akan sepak terjang suami. Padahal aslinya, sebagai penyalur tenaga kerja di luar Maryadi suka menyalurkan “tenaga kuda”-nya pada Maryati. Meski dalam keseharian nampak sebagai lelaki yang kurang bisa bergaul, ternyata di luar pengetahuan istrinya dia sangat mahir menggauli kaum hawa. Jadi Maryadi bisa dikategorikan sebagai lelaki yang tenang-tenang, tapi menghanyutkan dan sekaligus ……memalukan!

Soalnya, ibarat main sinetron, tibalah Maryadi pada episode terakhir. Ini terjadi beberapa hari lalu. Pada istrinya di rumah dia pamit mau bersilaturahmi ke rumah famili di Mojokerto. Ternyata justru bersama gendakannya dia ngendon seharian di kamar hotel Jalan Wijaya. Di sini Maryati dibolak-balik bak bikin dadar telur, hingga termehek-mehek dibuatnya. Sungguh luar biasa, sebagai penderita kencing manis Maryadi masih hobi “kencing enak”.

Apes rupanya kali ini. Entah pada ronde ke berapa, tahu-tahu Maryadi kejang-kejang dalam kondisi masih bugil. Maryati berteriak dan satpam hotel memberikan pertolongan. Tapi nyawa penyalur tenaga kerja tersebut sudah tak bisa ditolong. Ketika jenasah dibawa pulang ke rumah, istrinya hanya bisa meratap malu. “Oalas Mas, pamitnya mau silaturahmi, ternyata kok selingkuh,” kata Ny. Minul.

Ya karena tak jadi silaturahmi, usia Maryadi jadi pendek.

This entry was posted in Meninggal Saat Selingkuh, Perselingkuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s