Lelaki Paling Sial … Sudah Ceraikan Istri Demi Menikahi Pembantu Eh Sang Pembantu Malah Selingkuh

DEMI cinta Gito, 35, rela menceraikan istri dan siap koalisi dengan seorang pembantu. Tapi ternyata, Yeni, 25, berkhianat dengan lelaki lain.

Duda yang sudah terlanjur kehilangan segalanya ini jadi kalap. Dibunuhnya si pengantin baru itu, dan Gito pun menyusul bunuh diri dengan hara-kiri (menyobek perut).

Ini kisah percintaan yang mirip-mirip koalisi antar partai menjelang Pilpres 2009. PAN sampai pecah dua gara-gara demi SBY. Tapi ternyata Demokrat malah “kawin” dengan PDI-P. Praktis partai-partai yang kadung berkoalisi jadi gerah. PAN, PKS dan PPP siap meninggalkan SBY dan membentuk poros alternatif. Padahal intinya mereka khawatir jatah kursi kabinet untuk mereka jadi semakin kecil karena diberikan pada koalisator baru.

Perjalanan nasib Gito yang asal Banyubiru ini agaknya seperti partai-partai tersebut. Hanya bedanya, partai sekadar mengejar kekuasaan, sedangkan Gito memburu kenikmatan. Bila PKS/PAN dan PPP mau membentuk poros altenatif, Gito kini pusing karena gagal memperoleh “poros tengah”. Poros tengah yang mana? Ya “poros tengah” Yeni yang sudah kadung dinikmati suami barunya. “Kubela-belaian cerai dengan istriku, kok hasilnya begini,” kata batin Gito.

Gito sebetulnya cukup bahagia dengan rumahtangganya. Kurang apa lagi? Istrinya cukup cantik dan setia. Tapi ketika kenal dengan Yeni yang bekerja jadi pembantu rumahtangga di Desa Koripan Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang, dia langsung klepeg-klepeg. Gadis asal Bandung itu memang lumayan cantik dan jauh lebih muda. “Angkat ngagandeang, bangun taya karingrang, nganggo sinjang dilamban,” begitu Gito suka bersenandung, semenjak kenal mojang Priangan tersebut.

Lagu Mojang Priangan itu diperoleh Gito dari si Yeni. Karena dia kadung cinta dengan si dara parahiyangan, dia mau juga mempelajari budaya dan bahasa Sundanya. Sedikit-sedikit dia sudah tahu apa artinya: abdi bogoh ka anjeun (aku cinta padamu) atau kumaha damang (bagaimana kabar). Malah lagu lama Bandung kota kenangan-nya Tety Kadi juga suka diputar Gito untuk Yeni. “…..Walau kini jauh kutinggalkan, kota kembang yang selalu kurindukan…!”
Ya, Gito memang kadung cinta habis-habisan pada sang TKW domestik tersebut.

Cuma sayangnya, Yeni tak mau hanya dijadikan sekedar iseng pemuas nafsu. Dia mau dikawin resmi, tapi juga tak mau dimadu. Itu artinya, bila Gito serius mengajak berkoalisi, harus menceraikan istrinya yang pertama. Tinggal kini dia harus memilih, berat istri di rumah atau berat si mojang priangan yang berkulit putih bersih dan berbetis mbunting padi tersebut.
Cinta memang perlu pengorbanan, begitu tekad Gito kemudian. Setelah lewat proses alot berbulan-bulan, dia berhasil pecah kongsi dengan bininya.

Dengan bekal surat cerai kembali Gito merapat ke kubu Yeni. Tapi alangkah kecewanya, karena ternyata Yeni kini sudah punya suami baru. “Jeneh ditunggu-tunggu ora ana kabare (habis ditunggu-tunggu tanpa kabar),” begitu alasan Yeni yang sudah pinter ngomong Jawa.

Lemas sudah Gito, nasibnya bagaikan Lebai Malang. Istri lama hilang, istri baru juga melayang. Kalaplah dia. Yeni yang tengah menggendong anak majikannya tersebut langsung ditusuk pisau, hingga terkapar dan tewas. Dalam keadaaan panik Gito pun meniru cara orang Jepang. Pisau bekas untuk membunuh Yeni dipakainya untuk hara kiri alias menyobek perutnya sendiri. Dia mati sampyuh (mati bersama) bagaikan Rara Mendut – Pranacitra demi cintanya yang kandas dan sia-sia

This entry was posted in Pernikahan, Perselingkuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s