Ketua KPPS Mencoblos Istri Warga Saat Suami Mencoblos Di Kotak Suara

SEBAGAI ketua KPPS, Husin, 37, memang sibuk luar biasa. Tapi sesibuk-sibuknya dia dalam urusan contreng menyontreng, ternyata dia masih sempat pula nyontreng dan “nyoblos” bini tetangganya. Gara-gara itu pula Husin akhirnya tak sempat melihat hasil Tabulasi Nasional KPU, karena mati dieksekusi suami Solikah.

Terjebak permainan cinta di bawah tanah alias selingkuh, memang bisa dialami siapa saja. Politisi, pejabat, wong cilik dan masyarakat akar rumput bisa terkena. Soalnya ya itu tadi, masalah “perbiskuitan” memang selalu menarik kaum adam. Padahal jika sudah jadi masalah, konsekuensinya bisa macam-macam. Jika hanya diselesaikan lewat polisi dan KUA, itu masih mending. Sebab banyak pula, gara-gara perselingkuhan jadi urusan TPU (Tempat Pemakaman Umum). Maksudnya, pelaku selingkuh itu harus membayar dengan nyawanya.

Husin, warga Desa Sindir Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep (Madura) rupanya lupa akan konsekuensi tindak perselingkuhan semacam di atas. Pikir dia, sepanjang pihak wanita memberi angin, gak masyalllah. Karena itulah, meski sibuk jadi Ketua KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara), masih bisa menyisihkan waktunya untuk cinta haraman tapi asyikan.

Seperti pada 9 April 2009 lalu. Usia pencontrengan di TPS desanya, Husin masih sempat nyontreng dan nyoblos Ny. Solikah, 30, istri tetangga sendiri. Bahkan ketika istri Juberi, 36, itu datang ke TPS, dia sempat kirim SMS. “Usai nyontreng, kita nanti “contreng-contrengan” sendiri yuk…,” kata Husin.

Husin sangat tenang melakukan itu semua, karena dengan Solikah secara diam-diam sudah macam suami istri saja. Maksudnya, di depan umum keduanya tampil sebagai pribadi-pribadi yang asing. Tapi pada forum tersembunyi, keduanya sudah tak ada jarak lagi. Dalam posisi antar tetangga, Husin – Solikah bisa berjarak 2-3 meter sampai tak terhingga.

Namun sebagai rekanan selingkuh, jarak mereka seringkali tinggal beberapa mili saja. Rambut ketemu rambut, kulit ketemu kulit. Pokoknya lengket sekali macam perangko.

Tetapi sepandai-pandai tupai selingkuh, sekali waktu jatuh juga. Begitu pula yang dialami pasangan mesum Husin – Solikah. Lama-lama Juber tahu bahwa istrinya menjalin skandal bersama Ketua KPPS itu. Lalu dia pun bertekad: urusan “biskuit” harus diselesaikan dengan clurit.

Karena itulah, setelah usai Pemilu 9 April Juber selalu membuntuti Husin yang sudah berani menyerobot kehormatan istrinya. Dan di saat orang se Nusantara membicarakan tabulasi dan koalisi, Ketua KPPS itu ditemukan mati di tengah sawah. Kabar santer waktu itu mengatakan, pelakunya pasti orang yang kecewa karena tidak bisa ikut nyoblos.

Tapi beberapa hari lalu motif pembunuhan Husin terungkap sudah. Juber yang ditangkap berdasarkan barang bukti, akhirnya berterus terang bahwa dia terpaksa membunuh tetangganya, karena sakit hati. Bagaimana tak terhina harga dirinya? Husin yang nampaknya ramah dan pintar bergaul, diam-diam suka menggauli Solikah istrinya.

“Dia suka kirim pulsa untuk Solikah, lalu SMS-SMS-an janjian kencan. Bagaimana saya tak tersinggung?” kata Juber. Kirim pulsa segala, padahal cinta Husin palsu.

This entry was posted in Pembunuhan, Perselingkuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s