Kepala Desa Mengurus Surat Cerai Sekaligus Memberi Nafkah Batin Pada Warga Yang Membutuhkan

MAUNYA Pak Kades ini menolong warganya, yang mengurus surat pindah. Nggak tahunya dimanfaatkan untuk kawin lagi. Keruan saja Kades Syahroni, 50, digugat suami Nastiti, 38, di PN Kalianda (Lampung). “Apes banget saya, mau nulung malah kepentung,” katanya penuh penyesalan saat menjadi terdakwa.

Nenek moyang selalu bilang, wani ngalah luhur wekasane (siapa yang mau mengalah pasti jaya di kemudian hari). Itu duluuuuu! Di era gombalisasi macam sekarang ini, wani ngalah pasti kuru awake (berbadan kurus). Soalnya, untuk masa kini yang tetap mengalah juga nggak kebagian. Contoh paling anyar dalam gonjang-ganjing politik di tanah air ini.  Partai yang diam saja tak mau berebut koalisi, nantinya ya nggak bakal diajak masuk kabinet. SBY yang menang, tak jadi mentri. Megawati yang berjaya juga tak ikut menikmati kue kekuasaan.

Nrima dan wani ngalah-nya Kades Syahroni dari Desa Negarasaka, Kecamatan Negerikaton, Pesawaran, Lampung ini sama sekali tak bermotif politik, rapi sekedar untuk menjaga kerukunan bermasyarakat. Apa lagi sebagai Kades kan harus menjadi pelayan rakyat. Sebab pemimpin yang baik itu harus selalu berprinsip: jangan berfikir apa yang bisa diberikan rakyat padaku, tapi berfikirlah apa yang bisa diberikan pada rakyat. Karena itulah, begitu warganya minta tolong langsung dibantu tanpa reserve.

Celakanya, orang entengan macam Pak Kades lalu dimanfaatkan orang. Seperti Nastiti ini misalnya, sudah lama dia tak rukun dengan suaminya.  Mau minta cerai tak pernah dikasih, tapi nafkah lahir batin juga sudah tak lama diberi. Bagaimana suaminya mau memberi, wong Nastiti juga sudah lama pisah rumah, dan kembali ke kampungnya di Desa Negarasaka.

Sementara rumahtangganya tidak hepi (bahagia), di luar Nastiti sebetulnya terus membangun koalisi untuk menghadapi pilsum (pilihan suami). Tokoh yang cocok untuk menjadi suami barunya sudah diperoleh. Cuma sayang, untuk menuju ke pelaminan tidak mudah, karena dia masih dalam status istri Basuki. Bisa sih nekad saja menikah dengan sang arjuna, tapi nantinya kan sama saja dia poliandri. Masak perempuan kok suaminya dua. Bagaimana kalau sama-sama “butuh”, apa musti pingsut dulu?

Untungnya Nastiti ini wanita cerdas di jamannya, wong saat di sekolah dulu matematikanya dapat 9. Untuk menggolkan keingnannya, diam-diam dia menghubungi Pak Kades Syahroni untuk surat membuat surat pindah. Tanpa selidik dan identifikasi sebelumnya, Pak Kades langsung saja membuatkannya. Entah bagaimana caranya, dalam surat pindah tersebut kemudian Nastiti berhasil mengubah status dirinya menjadi: belum menikah. Nah, dengan status tersebut, di tempat tinggalnya yang baru dia berhasil mengurus surat untuk pernikahan dan jadilah dia menjadi istri Sumijo, 45.

Sebagai pengantin baru, tahu sendirilah bahagianya Nastiti. Tapi enak di dia, tak enak di Basuki. Tahu istrinya kawin lagi sedang dengannya belum cerai, segeralah dia mengadakan pengusutan. Titik masalah ternyata berangkat dari surat pindah yang dibuat Kades Syahroni. Sebagai akibatnya kini Pak Kades dan Nastiti sama-sama diadili di PN Kalianda. Keduanya dikenakan pasal pemalsuan data (pasal 263), yang ancamannya bisa 6 tahun penjara. Sebab gara-gara tanda tangan Kades Syahroni, Basuki serta merta kehilangan istri.

Kalau sepeda motor bisa diganti, lha kalau istri?

This entry was posted in Pagar Makan Tanaman, Perselingkuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s