Gagal Menikah Karena Sang Pengantin Wanita Tidak Mau Bersenggama

Agaknya Widodo, 23 beranggapan bahwa bila telah jadi pacar bolehlah seorang wanita dibegituin. Tapi tak semua perempuan begitu. Maka ketika dia ditolak Sumi, 28, kekasihnya, dia pun ngambeg tak mau melanjutkan ke jenjang pernikahan. Tentu saja keluarga Sumi merasa dipermalukan dan lapor polisi.

Tata pergaulan anak muda era gombalisasi memang sudah terlalu maju, jika tak mau dibilang kemajon. Nilai moral pun sudah mulai bergeser. Simak saja lagu Aryati karya Ismail Marzuki: “Dosakah hamba mimpi berkasih dengan tuan” Lihat, betapa santunnya gaya pacaran orang tahun 1940-an. Coba anak muda sekarang, mana mau bila hanya berkasih-kasihan dalam mimpi saja. Mereka harus praktek langsung, soal dosa itu urusan nanti.

Itu pula rupanya paham yang tengah dianut, Widodo, tukang parkir dari Desa Gunungan Kecamatan Sumberejo Kabupaten Bojonegoro. Ketika sudah dinyatakan resmi sebagai calon suami istri, bersama Sumini warga Desa Depok Kecamatan Bendungan Trenggalek, dia lalu menganggap bolehlah untuk “ngemping” atau memberi DP barang sekali. Padahal, meski orang kampung kurang pendidikan, Sumini masih menjunjung tinggi tata pergaulan orang timur, apa lagi tinggal di Jawa Timur.

Kira-kira sebulan lalu keluarga Widodo dan Sumini duduk bersama, untuk mengesahkan pertunangan mereka, sekalian dengan pemberian sebentuk cincin di jari. Maksud mereka sudahlah jelas, agar keduanya menjaga kesetiaan, tidak tergoda atau diganggu cowok/cewek lain. Sambil menunggu perhelatan atau hari perkawinan, silakan antara Sumini dan Widodo saling menjajagi dan menyesuaikan diri. “Sebab perkawinan itu bukan hanya untuk sehari dua hari, tetapi seumur hidup,” kata para pinisepuh kala itu.

Agaknya Widodo memang pekok (baca: tolol), maklumlah hanya tukang parkir tamatan SMP. Kata penjajagan olehnya diartikan sebagai: boleh menjajagi seberapa dalam kehormatan calon istrinya. Diapun lalu berpikir keras menurut daya nalarnya sendiri. Kalau menjajagi dalamnya sungai, bisa pakai galah atau tongkat. Tapi kalau menjajagi dalamnya “kehormatan” calon istri, harus pakai apa pula? Tiba-tiba Widodo bersenyum simpul penuh gairah. Begitu hari libur tiba, dia segera meluncur ke Trenggalek untuk mengadakan “penjajagan” pada Sumini calon istrinya.

Hari telah malam ketika Widodo tiba di rumah sang kekasih. Saking kangen dan ngebetnya, begitu keluarga calon istri telah sepi, langsung saja tukang parkir ini mengajak Sumini bersetubuh, dalam rangka penjajagan sebagaimana kata para pinisepuh tempo hari. “Emoh ah Mas, kuwi durung kena. Mbesuk ae yen wis resmi (Nggak ah, belum boleh, besok saja kalau sudah resmi),” kata Sumini sambil menghindar dari kamar celaka.

Sudah bisa diduga betapa kecewa hati Widodo. Sebagai tukang parkir, bila Sumini melayani, dia bisa mencumbu kekasihnya dengan kata-kata rutinnya: kiri, kiri, lurus, lurus, balas balas, persneling prei….! Lha kok yang terjadi malah Sumini ngambeg. Merasa dikecewakan oleh kekasihnya, pagi-pagi buta langsung kembali ke Bojonegoro. Lebih dari itu, seminggu kemudian keluarganya mengirim surat bahwa pertunangan dibatalkan, alias rencana perkawinan Widodo – Sumini dieliminasi.

Aduh, betapa kaget dan malunya keluarga Sumini menerima pemutusan pertunangan secara sepihak. Sudah kadung diketahui semua penduduk, dan juga sudah pesan ini itu, kok dibatalkan seenaknya saja. Keluarga Sumini pun segera melaporkan Widodo ke Polres Trenggalek dengan tuduhan perbuatan tak menyenangkan sekaligus pencemaran nama baik.

Yang bener, Sum. Belum sempat “tercemar” kan?

This entry was posted in Kisah Cinta, Pernikahan, Putus Cinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s