Gara Gara Tidak Diizinkan Kawin Lagi Seorang Suami Memukuli Istrinya

SEBAGAI PNS yang jabatannya cuma staf, Giyadi, 45, terlalu pede untuk berpoligami. Padahal berbini dua tak cukup modal onderdil, tapi juga materil yang kuat. Karena itulah Ny. Murweni, 38, istrinya menentang keras. Tapi Giyadi yang pantang dihalang-halangi tekadnya, langsung meng-KO istrinya dalam satu ronde.

Orang selalu diajarkan untuk hidup optimis, jangan takut bayangan, semua ada jalan keluar. Karenanya, ketika seorang lelaki dihadapkan pada keinginan poligami, “dalil” semacam itu selalu dipupuk dan diagungkan untuk membenarkan tekadnya. Ingatlah kata Puspo Wardoyo juragan ayam bakar Wong Solo: banyak istri banyak rejeki. Benarkah begitu? Yang jelas, banyak istri akan banyak……masalah!

Giyadi warga Balunglor Kecamatan Balung Kabupaten Jember (Jatim), agaknya yakin betul dengan teorinya Puspo Wardoyo tersebut. Maka ketika hatinya kencantol pada seorang janda muda nan seksi, dia membulatkan tekadnya untuk bisa memiliki janda tersebut. Bagaimana dengan istrinya di rumah, apakah dia tidak ngamuk. “Nggaklah, asal aku bisa berlaku adil pada keduanya, semua nggak masalah,” begitu kata batinnya seakan ngempukake wesi (mempermudah masalah). Nggak tahulah, ini hati nurani atau hati yang dilamun setan.

Janda Susmiati, 28, memang cantik dan menawarkan sejuta gairah. Giyadi yakin bahwa jika menjadi suami wanita itu, akan bahagia sejahtera sepanjang masa. Bagaimana tidak bahagia, dilayani dua istri sekaligus! Ada bini muda, ada bini tua. Jika jenuh pada yang tua, bisa menggilir yang muda. Jenuh dengan yang muda gantian menggilir yang tua. Begitu seterusnya silih berganti. Dan yang sering lolos dari perhatian, pelaku poligami rata-rata kulitnya menjadi lebih bersih, karena terlalu seringnya mandi wajib!

Tapi Giyadi sadar bahwa untuk poligami harus ada izin istri pertama. Karena itulah belum lama ini dia mengutarakan maksudnya pada ibunya anak-anak. Tapi ternyata jawabnya sinis: “Janganlah Mas, aku nggak mau hidup sekali saja kok punya madu. Mending sampeyan minum madu Dompu (Sumbawa) saja ya, nanti bisa “ulang taun” tiap hari kayak Rudi Salam,” kata Ny. Murweni masih datar.

Semangat Giyadi lalu mengendor, seakan membenarkan pendapat istrinya. Tapi begitu ketemu Susmiati yang seksi dan betisnya mbunting padi, kembali semangatnya menyala-nyala bak tabung gas 3 Kg bocor kena api. Masak hidup hanya sekali, tak bisa memiliki istri yang cantik dan seksi. Karena itulah dia balik lagi, mengutarakan niatnya pada istri untuk bisa kawin lagi.

“Apa? Sampeyan mau tiru-tiru Aak Gym? Modalmu apa? Gaji PNS untuk hidup saja pas-pasan, masak nambah dapur lagi. Nggak! Gelem ngene, gak gelem ya ngene (mau begini, nggak mau ya begini)” kata Murweni ketus sambil berkacak pinggang. Lalu muka suami ditunjuk-tunjuk. Ketika Giyadi mundur-mundur macam Pak RT Sarmili dalam sinetron “Suami-suami takut istri”, langsung didorongnya sekalian hingga terjengkang membentur tembok. Duggg!

Wah, wah, wah! Biasanya kan suami yang bikin istri “terjengkang”, kok ini kebalik-balik? Langsung emosinya bangkit. Tak peduli bulan puasa,  Murweni langsung dibalas ditonjok hingga ndlosor. Sementara Giyadi ngeloyor pergi, istri malang ini segera lapor polisi Polsek Balung. Gara-gara laporan tersebut, Giyadi dipanggil dan diperiksa polisi. “Saya nggak mau poligami kok, dia saja yang cemburuan!” kilahnya.

Kayak politisi saja, bisa-bisanya mutarbalikkan fakta!

This entry was posted in KDRT, Poligami. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s