Dua Nenek Berantem Sampai Tewas Karena Rebutan Bingkisan Habis Hajatan

Puasa adalah latihan kesabaran, tapi bagi Ny. Mardini – Ny. Sumini justru untuk adu kekuatan. Gara-gara pembagian asul-asulan (bingkisan) yang tak merata, mereka berantem sehabis salat subuh. Karena terdesak, Ny. Mardini, 50, menghantam kepala lawannya pakai batu, dan tewaslah Ny. Sumini, 45, menjelang fajar.

Sudah jamak di kampung, hanya urusan sepele menjadi topik nan rame sehingga bikin berabe. Dalam kaitan tradisi misalnya, hanya soal pembagian bingkisan tak memuaskan dari tuan rumah selepas hajatan, bisa jadi persoalan yang tak selesai diperbincangkan dalam seminggu. Ketika ngerumpi dengan tetangga, topik itu kembali dibahas, dan semakin seru adanya. Dari sini pula kemudian suka timbul masalah baru, karena ada pihak lain yang tersinggung.

Yang terjadi di Desa Deyeng Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri, kurang lebih sama. Menjelang Ramadan 1431 H Pak Karto, 54, keluarga terpandang di desa itu punya hajat. Sebagaimana lazimnya orang di kampung, para tetangga berdatangan ikut membantu, dari masak memasak di dapur, sampai mengatur penyelenggaraan hajatan tersebut. Nanti ketika hajatan usia, para tetangga yang rewang (membantu) diberi bingkisan yang disebut asul-asulan, berupa beras, gula dan sabun cuci.

Hajatan di rumah Pak Karto sudah selesai, tapi di antar tetangganya menyisakan pergunjingan yang tak kunjung habis. Masalahnya, pembagian asul-asulan tersebut jumlahnya tidak merata, ada yang lebih bagus, dan ada yang lebih jelek. Padahal menurut para yang rewang, semua sama-sama capek, tapi kok ucapan terima kasihnya berbeda. “Ini kan tergantung tukang bagi-bagi asul-asulan-nya, kalau yang punya rumah sih tahunya beres….” kata seorang warga.

Dilacak siapa “juru bagi”-nya, kemudian mengarah pada Ny. Sumini. Tentu saja dia tak mau dijadikan “kambing hitam”. Dilacak lagi siapa yang mengompori masalah ini, ketemu Ny. Mardini. Tentu saja perempuan ini jadi marah. Sebab untuk urusan ini, sudah pernah diributkan di rumah Pak Karto. Kala itu masalah sudah dianggap selesai, eh ternyata  di lain hari diperbesar lagi dan jadi bahan gosip antar warga.

Sumini ingin sekali melabrak nenek yang tak tahu diri itu, sudah tua malah seneng adol omong (mengumbar suara). Dia baru berhasil ketemu justru baru beberapa hari lalu, saat nenek itu pulangsalat subuh di mushola desa. Tanpa ba bi bu lagi, mukena Mardini disendhal (ditarik), hingga nyaris terjatuh. Keduanya pun lalu ribut menjelang fajar. Begitu emosinya mereka, bak anak kecil saja Mardini – Sumini cakar-cakaran dan bergulat di atas tanah. Lantaran kalah kuat, Ny. Mardini sempat dikangkangi dan dipukuli tanpa bisa melawan.

Tiba-tiba Mardini melihat sebongkah batu, langsung saja dikeprukkan ke kepala Sumini, pragggg! Seketika itu juga sang musuh terkapar mandi darah dengan napas ngorok. Mardini  lalu teriak-teriak minta tolong tetangga, dan warga segera berdatangan. Dalam kondisi kritis Ny. Sumini dilarikan ke RS Asyifa Kediri, tapi dalam perjalanan meninggal dunia.

Praktis Ny. Mardini jadi urusan polisi. Sebab meski tak sengaja, akibat ulahnya telah menyebabkan seseorang kehilangan nyawa, yang di toko tak pernah dijual. Dengan lesu nenek sejumlah cucu itu masuk sel di Polres Kediri. Dia tak menyangka, hanya urusan asul-asulan menyebabkan dirinya jadi napi. Tapi apa juga bakal dapat remisi?

Nunggu bulan Agustus tahun depan, Mbah!

This entry was posted in Pembunuhan, Perkelahian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s