Daripada Putus Cinta Lebih Baik Putus Urat Nadi

Baru pukul 05.00 pagi, tapi tubuh Fuad, 25, nampak begitu lemas pada Ramadan hari ke-8. Apa karena tidak sahur? Bukan, dia lemas karena nyaris kehabisan darah. Usai subuh tadi, Fuad nekad menyilet pergelengan tangannya dalam rangka bunuh diri. Soalnya, orangtua sidoi memutuskan pertunangan secara sepihak.

Yang suka ngomong mencla-mencle esuk dele sore tempe ternyata bukan politisi saja. Calon mertua bisa juga berbuat serupa, gara-gara melihat perilaku calon menantu yang tidak berkenan di hatinya. Padahal, rencana perkawinan sudah diatur dan ditentukan sebulan lagi. Bagaimana pihak calon menantu lelaki tidak kalang kabut. Maklum, sebab dia bakal dirugikan secara moril maupun materil. Bagaimana tidak malu, sudah kadung kondang kok batal nunggang!

Ini pula nasib yang dilakoni Fuad, warga Desa Muneng Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo (Jatim). Di kala cintanya semakin merekah, karena bulan depan akan diresmikan sebagai suami istri, tahu-tahu kabar buruk menimpanya. Mengingat, menimbang, orangtua si Nunik, 21, memutuskan bahwa rencana perkawinan dibatalkan. Keputusan ini dibuat di Probolinggo tanggal sekian bulan sekian, ttd: Atmopawiro.

Apa latar belakang yang membuat Pak Atmopawiro, 55, ayah Nunik berubah pikiran, tidak diketahui pasti. Mungkin juga perilaku Fuad sebagai calon mantu yang tidak pro mertua, mungkin juga Pak Atmopawiro sudah memiliki kader lain, yang lebih mengakar dan lebih ideal sebagai calon mantu. Nunik sebagai anak sudah mencoba klarifikasi, tapi si bapak tetap killer, Fuad ditolak sebagai calon mantu dan terdepak dari keluarga besar Atmopawiran. “Aku ra sudi duwe mantu Fuad, titik (aku nggak sudi punya mantu Fuad),” kata Pak Atmopawiro tak bisa ditawar.

Bukan hanya Fuad sebagai pihak terkait, kubu calon besan juga sangat terkejut atas keputusan yang sepihak ini. Mereka lalu mencoba melobi Pak Atmopawiro, agar keputusan itu dianulir lagi. Tapi keputusan ayah Nunik ternyata tak bisa diganggu-gugat macam juri  undian TTS di majalah saja. Terpaksa delegasi kubu Fuad kembali dengan tangan kosong. Kepada sicalon pengantin yang wurung (gagal), hanya bisa dinasehatkan bahwa jagad ora ming sak godong kelor (dunia tidaklah sempit). Masih banyak gadis dan janda lain yang siap jadi istri Fuad.

Tapi masalahnya kan bukan sekedar itu. Cinta Fuad yang sudah demikian mendalam dan mengakar, tak bisa ditukar-tukar sedemikian rupa. Sejak keputusan Pak Atmopawiro yang menyakitkan, Fuad jadi suka bengong, melamun sendiri. Kadang mengomel, tapi tak jelas siapa yang diomeli. “Bikin ide kok yang aneh-aneh, macam Ruhut Sitompul saja….,” kata Fuad, mungkin ya ditembak bapaknya Nunik juga.

Merasa tak bisa hidup tanpa Nunik, Fuad lalu mencoba menyelesaikan kemelut ini dengan caranya sendiri. Beberapa hari lalu sehabis salat subuh dia lalu ambil silet, langsung naik motor ke rumah kekasihnya. Tiba di halaman rumah Nunik dia segera menyilet-nyilet pergelangan tangannya hingga berlumuran darah. Melihat erangan orang di luar, Nunik segera keluar. Alangkah kagetnya dia, dalam keadaan kritis Fuad lalu dilarikan ke RSUD Muh. Saleh, Probolinggo. Untung urat nadi belum sempat putus, sehingga nyawanya bisa diselamatkan. Paling ironis, meski Fuad sudah berbuat senekad itu, Pak Atmopawiro tak juga bergeming.

Ah, cuma gertakan sambal ini, begitu pikirnya.

This entry was posted in Bunuh Diri, Putus Cinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s