Nenek Usia 69 Tahun Dibunuh Karena Diduga Berselingkuh

Aneh juga Markasan, 79, dari Boyolali (Jateng) ini. Istri sudah berusia 69 tahun masih dicurigai punya PIL. Memangnya masih ada yang doyan, lalu mau dialap (dimanfaatkan) apanya? Tapi begitulah suratan nasib Ny. Kasiyem, dia harus mati dalam cekikan tangan suami sendiri, gara-gara dibakar api cemburu.

Rasanya tidak masuk akal, perempuan sudah berusia menjelang 70 tahun, masih memiliki PIL (Pria Idaman Lain). Kalaupun punya PIL, paling-paling dalam arti sebenarnya, yakni yang berupa tablet anti masuk angin seperti Antangin JRG-nya Basuki almarhum. Maklumlah, nenek-nenek seusia itu sangat rawan penyakit. Sebentar-sebentar bengek, sebentar-sebentar harus kerokan, sehingga tubuhnya jadi mirip sebra di bon bin Ragunan, Jakarta.

Tapi Ny. Kasiyem warga Desa Bantengan Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali, diyakini Markasan suaminya bahwa dia punya PIL itu. Alah, alah…….., lelaki nggragas cap apa sih yang mau nenek-nenek jompo? Atau penampilan istri Markasan ini memang setara dengan Titik Puspa maupun Mooryati Sudibyo, dalam usia di atas kepala tujuh masih nampak cantik?

Kata para tetangga, janda yang baru dikawini Markasan setahun lalu ini sebenarnya biasa-biasa saja. Tapi karena dia menganggapnya Kasiyem Istri Utama, jadi merupakan hak istimewa suami untuk mencemburui. Ini nampak dari proteksi Markasan yang begitu ketat pada sang istri. Mau ke mana saja harus lapor, berangkat jam berapa dan kembali jam berapa, harus jelas. Jika Kasiyem menabrak rambu-rambu itu, Markasan bisa marah.

Kesannya Markasan ini memang tidak bisa lama-lama jauh dari istri. Lha memang iya. Soalnya dalam usia jompo menjelang kepala delapan ini, dia sehari-hari harus banyak dibantu oleh istrinya. Mules ngelu (sakit) Kasiyem yang mijiti. Pengin mandi pakai air hangat, istri baru pula yang masak air. Jadi fungsi istri barunya kini hanya untuk itu. Untuk urusan ranjang sudah tidak lagi terpikirkan, karena memang sudah tak bisa lagi diambil sari manfaatnya.

Tak ada angin tak ada hujan, ada kabar tak sedap masuk bahwa Kasiyem memiliki PIL. Awalnya Markasan juga tak percaya, sapa ta sing doyan (siapa yang mau), begitu pikirnya. Tapi kabar itu makin santer berhembus, sedangkan Kasiyem juga tak pernah mau mengakui akan hal itu. Padahal secara ilmu polisi yang mau dapat remunerasi, yang namanya maling itu takkan pernah mau mengaku.

Sebagai kakek bijak, dia tak mau memarahi istrinya habis-habisan. Markasan hanya mencoba memutus jaringan slingkuhisme itu dengan cara mengektradisi istrinya ke daerah Jatisrono, Wonogiri. Dengan memisahkan keduanya, Markasan yakin betul gerakan asmara bawah tanah itu akan terhenti. Bagaimana jika Mbah Kasiyem chating-chatingan dengan doinya? “Halah, mana tahu istriku chating, tahunya cething (bakul)….,” kata batinnya.

Sebelum dikirim ke Jatisrono, Mbah Markasan mengajak istrinya ke rumah familinya di Wonosegara, berembug soal itu. Sepulang dari sana di jalan Mbah Putri ngambeg, tak mau diekstradisi ke daerah asing Jatisrono. Mau apa di sana, belajar melukis wayang? Nah, penolakan ini menjadikan Markasan makin mencurigai bahwa istrinya tak mau dipisahkan dengan PIL-nya. Ributlah mereka sore itu, dengan akibat Markasan kalap dan mencekik istrinya hingga tewas. Meski dia mengelabui polisi bahwa istri mati terjatuh, bekas cekikan di leher Kasiyem membuat Markasan tak bisa berkelit. Kini dia ditahan di Polsek Wonosegara.

Sudah tua begitu, mestinya berhati segara (sabar), mbah!

About these ads
This entry was posted in Pembunuhan, Perselingkuhan, Tua Tua Makin Jadi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s