Pasangan Selingkuh Jadi Tonton Warga Saat Berhubungan Intim

Ironis memang. Sementara warga Yogya yang lain resah dengan akan dicabutnya hak istimewa daerahnya, dua warga Sleman (DIY) ini malah selingkuh istimewa! Bagaiamana tak istimewa, Darmi – Ponidi berasyik masyuk di bawah rumpun bambu, jadi tontonan warga sampai kemudian jadi urusan polisi.

Daerah istimewa bisa dicabut oleh penguasa yang tidak tahu sejarah. Tapi kalau “selingkuh istimewa”, siapa yang mau mencabut? Mungkin karena pertimbangan ini, Darmi, 36, mau saja melayani kekasih gelapnya, Ponidi, 40, di bawah kerimbunan pohon bambu di tengah malam. Namun sial rupanya, ketika keduanya masih di taman “surgawi”, tiba-tiba terdengar suara orang terjatuh, gedebug! Wooo….., ada yang nginjen (ngintip) to ini, maka Darmi – Ponidi pun cabut (kabur) juga dari aksi mesumnya.

Darmi dan Ponidi memang hidup bertetangga di Desa Taman Martani, Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman. Mereka sudah memiliki pasangan masing-masing, ada anak dan ada suami/istri. Karenanya, jika keduanya mau nrima ing pandum (hidup apa adanya), pastilah damai sejahtera, tidak perlu sampai dipermalukan warga. Bayangkan, di bawa ke kantor polisi hanya soal “mencuri” asset istri tetangga.

Tapi begitulah manusia. Sebagai makhluk homo sapiens, kelakuannya sering mirip seekor sapi juga. Ponidi misalnya, ketika melihat “sapi” tetangga demikian mulus bebas dempul, ingin pula “nyeruduk”-nya hingga termehek-mehek di pojok kandang, eh ranjang. Padahal sikapnya ini, sama saja meremehkan Tugeno, 38, suami Darmi. Jika sampai ketahuan, bagaimana? Apa tidak malu pada suami, apa tidak malu pada tetangga? “Afalla takkilun (apakah kamu tak berakal)…..?” firman dan peringatan Allah Swt dalam Quran berulang kali.

Manusia memang lebih mudah terbawa jalan setan daripada jalan Tuhan. Karena itulah, Ponidi mencoba juga cengengas-cengenges mendekati cem-cemannya. Ternyata Darmi menanggapi aspirasi urusan bawah pria tetangga itu. Cuma selingkuh kelas akar rumput memang beda dengan kalangan berduit. Bila orang berpunya bisa ke hotel berbintang, model Darmi – Ponidi cukup di kebun belakang rumah. Yang penting libido tersalurkan, tidak perlu mengkristal jadi kemenyan.

Beberapa malam lalu kembali Ponidi ketagihan, maka melalui HP kemudian diatur, mencari arena selingkuh yang sangat istimewa tapi bebas biaya. Tempatnya tak lain di bawah pohon bambu di pinggir desa. Dengan beralaskan klasa mendong (tikar), keduanya berasyik masyuk bak suami istri. Saking asyiknya, Darmi – Ponidi tak sadar bahwa perilakunya jadi tontonan gratis sejumlah mata.
Mentang-mentang bebas pajak tontonan, pengintipnya makin bertambah saja, sampai kemudian terdengar suara gedebug, salah seorang pengintip tergelincir. Sadar bahwa diintip orang, Darmi – Ponidi pun mengemasi pakaian masing-masing dan kabur, kembali ke rumah. Amankah? Jelas tidak, sebab warga lalu mengadukan perihal itu pada pasangan masing-masing. Keruan saja suami Darmi tak terima, sehingga membawa persoalan ini ke Polsek Kalasan. Ironis kan, warga lain mengungsi karena takut lahar Merapi, Ponidi “mengungsi” di Polsek gara-gara menzinai bini tetangga sendiri.

Yang satu karena erupsi, satunya lagi karena…… ereksi!

About these ads
This entry was posted in Perselingkuhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s