Nenek Nenek Memergoki Maling Kambing Eh Malah Diperkosa Ramai Ramai

Agaknya Kamidi, 35, memang pecinta benda purbakala. Rencananya mau nyolong kambing milik tetangga, ketika konangan (ketahuan) pemilik bukannya lari, malah Mbah Kasmi, 75, diperkosanya sekalian dan kabur. Si nenek yang sudah kadung lupa soal begituan, segera melapor ke Polresta Bantul.

Kecuali maling uang negara, pencuri harta orang kampung selalu punya petungan (hitungan) sebelum menjalankan aksinya. Jika malam ini larinya ke mana, jika malem itu larinya ke sono; semua sudah dihitung dengan cermat. Konon, maling yang juga buang air di tempat dia beraksi, adalah juga bagian kiat dia menyelamatkan diri agar tidak ketahuan pemiliknya, atau sukar dilacak.

Agaknya Kamidi, warga Desa Panggungharjo Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul, sama sekali tak memiliki ilmu-ilmu semacam ini. Jadi maling berdasarkan keberanian saja, tanpa memikirkan resiko kemudian. Maka meski hanya mau mencuri kambing, gagal total. Kalaupun ada sedikit “untung”, dia berhasil memperkosa Ny. Kasmi, yang usinya lebih pantas jadi ibunya. Gilanya Kamidi, dalam kondisi tegang, kok masih sempat-sempatnya mikir soal begituan.

Di kampungnya Kamidi tak memiliki penghasilan jelas. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, jika kepepet terpaksa nyolonglah. Padahal dalam keseharian dia lebih banyak kepepetnya, sehingga Kamidi juga sering jadi “uler”-nya masyarakat. Ketemu jemuran, sikat jemuran. Ketemu motor ya bawa lari itu motor. Bahkan kadang-kadang, melihat pisang masak di kebun pun diembatnya juga. Di sore hari masih nampak kuning menggairahkan, esok pagi ngececeng tinggal tangkainya doang. Di Prambanan ada bong supit Notopandoyo, di Bantul ada “tukang supit” pisang bernama Kamidi!

Kamidi punya tetangga, janda tua bernama Mbah Kasmi. Dia memiliki sejumlah kambing Jawa yang bagi Kamidi memiliki nilai colong yang tinggi. Maka beberapa malam lalu dia nekad hendak menyatroni kambing tersebut. Karena dia memang gaco wani (asal berani) tanpa memiliki ilmu maling, baru mendekati kandang saja kambing-kambing tersebut saling mengembik: mbak mbeeeek bikin berisik.

Waktu sudah menundjuk pukul 02.00 dinihari. Mendengar suara kambing-kambing miliknya yang sangat mencurigakan, Mbah Kasmi segera keluar. Di kandang dia mendapati Kamidi berdiri di pojokan. “Ngapa kowe bengi-bengi grumutan mrene, arep nyolong wedhusku, ya (malam-malam ngelayap ke sini, mau nyolong kambingku kan),” tegur Mbah Kasmi sengit.

Tapi Kamidi bukannya kabur, atau menjawab sepatah katapun. Bahkan dia segera meringkus Mbah Kasmi, lalu ditarik tapih (kain)-nya dengan paksa, diajak berhubungan intim bak suami istri. Tentu saja si nenek menolak, sebagai wanita yang sudah lama menjanda, dia sudah kadung lupa soal begituan. “Emoh, emoh, aja ngawur kowe. O lha cah edan (nggak mau, jangan main gila kamu),” maki Mbah Kasmi merepet-repet.

Tapi Kamidi memang edan. Tak peduli sudah alot macam kerupuk kedinginan, terus ditelateni juga sampai skor menjadi 1-0. Selepas menunaikan hajatnya, dia segera kabur tak jadi nyolong kambing. Dengan langkah terseok-seok esuk paginya Mbah Kasmi melapor ke Polres Bantul, mengisahkan ihwal perkosaan itu.

Pados visum riyin, mbah (cari visum dulu mbah)…..!

About these ads
This entry was posted in Pemerkosaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s