Kalah Dalam Pemilu Daerah Caleg Jual Istri Untuk Tutupi Utang

BELUM jadi anggota DPRD, otak Nasrul, 35, sudah miring macam gedung DPR, sehingga perlu dibangun baru. Bagaimana tak disebut gila, gara-gara banyak utang setelah gagal nyaleg DPRD, dia nekad menjual istrinya sebagai pelacur kelas tinggi. Tapi Ny. Nadia, 25, yang tak rela dikomersilkan mengadu pada polisi.

Diakui atau tidak, jadi anggota dewan banyak pula yang motifnya karena ingin berkelit dari status penganggur. Dia pikir, dengan menjadi anggota DPRD maupun DPR bukan saja statusnya yang terdongkrak, tapi penghasilan bulannya juga sangat besar.  Kerjanya juga enak sekali, cuma rapat, panggil pejabat untuk dengar pendapat, ngantuk, dan mbolos dari sidang. Kalau bahas RUU, sering pula dapat UUD (ujung-ujungnya duit). Soal rakyat ngomel, lalu main corat-coret atap gedung DPR macam Pong Hardjatmo, itu nggak usah didengerin!

Nasrul warga Polewali Mandar Sulawesi Barat, rupanya punya pola pikir demikian. Ketika pekerjaan tetap belum punya, lalu ada tawaran partai gurem untuk menjadi anggota DPRD, dia tertarik. Maka dia pun mencalonkan diri sebagai wakil Partai Gurem Nasional dari untuk dapil Polewali Mandar (Polman). Dan semenjak Nasrul dinyatakan sebagai caleg, uang pun harus mengalir dari kantongnya.

Celakanya, Nasrul bukanlah orang kaya. Biaya kampanye yang bernilai ratusan juta bahkan mendekati milyar, dia tak punya sendiri. Membayangkan setelah jadi anggota DPRD utang-utang bisa dibayar, dia berani ngutang sana ngutang sini, termasuk pribadi maupun bank. Ketika istrinya, Nadia, mengingatkan, dia malah mengutip ungkapan lama “bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian”. Lalu katanya: “Apa kamu nggak senang, bakal jadi istri anggota DPRD dari Polman….,” kata Nasrul yakin.

Nasrul pun sibuk cetak spanduk, baliho, untuk mempromosikan diri di pojok-pojok daerahnya. Setiap jadwal kampanye tiba, mulutnya membusa di atas panggung, kampanye tentang program-program partainya. Pokoknya yang serba manis dan menghanyutkanlah. Bila partainya menang, jalan-jalan mulus, sekolah gratis, pengangguran terkikis, dan bla bla bla.

Pemilu Legislatif 2009 berlangsung, dan ternyata Partai Gurem Nasional yang dipilih Nasrul gagal mewujudkan mimpinya. Baik DPR maupun DPRD perolehannya jeblok, dan calon yang gagal jadi anggota dewan yang terhormat ini mulai kliyengan kepalanya, memikirkan utang yang harus dibayar. Sejak itu dia selalu dikejar-kejar debt kolektor. Maka jawabnya seperti ibu-ibu ditagih kreditan panci: entar besok, entar besok!

Hidup dikejar-kejar utang memang tidak nyaman, sehingga Nasrul lalu memutar otak, memobilisasi kemampuan yang ada padanya. Dia lalu ingat bahwa Nadia istrinya cukup cantik dan bisa dikomersilkan sebagai pelacur kelas tinggi. Maka meski istrinya menolak solusi gila suaminya, akhirnya Nadia jadi “piala beredar” jatuh dari pelukan lelaki satu ke lelaki lainnya dengan tarif kencan Rp 500.000,- bebas PPN 10 persen. “Kalau kamu menolak, tak bunuh kamu,” ancam Nasrul dengan bengisnya.

Hampir tiap malam dijadikan budak seks sejumlah pria hidung belang, Nadia capek  pisik dan mental. Secara diam-diam dia melapor ke polisi, dan Nasrul pun ditangkap setelah buron beberapa minggu lamanya. Kini mantan calon aggota DPRD itu sedang diadili di PN Polman dengan tuduhan melanggar UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga pasal 8. Politikus gagal itu diancam hukuman 5 tahun penjara.

Gagal jadi anggota dewan malah jadi anggota napi.

About these ads
This entry was posted in Pelacuran. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s